Minggu, 15 Februari 2015

Majapahit vs Padjajaran



Majapahit merupakan kerajaan yang sangaaat besar. Kerajaan ini telah melaksanakan ekspansi keberbagai daerah di seluruh nusantara. Wilayahnya meliputi pelosok Indonesia bahkan sampai Malaysia dan Filpina> wow. Namun, ada suatu daerah yang belum ditaklukkan oleh kerajaan majapahit. Siapakah dia? Yap, ia adalah kerajaan padjajaran atau sering juga disebut kerajaan sunda. Kerajaan ini sangat tangguh. Dan kerajaan ini belum pasti dimana kerajaanya. ini dikarenakan kerajaan ini sering berpindah pusat kerajaan.Namun, yang pasti pernah merajai di wilayah jawa barat.
Majapahit sangat geram dengan kerajaan ini. Terutama adalah patih nya yang masyhur, gajah mada. Ia sangat ingin membuktikan sumpah nya yang terkenal dengan sumpah pallapa.tau kan? Itu loh, sumpah yang menyatakan bahwa patih gajah mada tidak akan melepaskan puasa (meni`mati dunia) sebelum menaklukkan seluruh wilayah di nusantara. Begitu juga dengan rajanya yang terkenal yaitu hayam wuruk. Duet maut ini sangat bersikeras mendapatkan kerajaan padjajaran.
Kemudian, hayam wuruk mendengar berita bahwa putri dari raja padjajaran sangat cantik. Dan hayam wuruk berniat kawin dengan putri tersebut. Putri itu tidak lain adalah diah pitaloka. Yap, putri dari raja sri baduga maharaja. Mendengar pernyataan hayam wuruk yang berniat untuk menikahi putrinya, sri baduga maharaja menyambut dengan senang hati karena putrinya akan menikah dengan soerang raja yang sangat terkenal di nusantara dari kerajaan majapahit.
Akhirnya, sri baduga maharaja berangkat menuju kerajaan majapahit untuk mengantarkan putrinya bertemu hayam wuruk. Sang raja membawa rombongan yang sangat banyak untuk menyambut pertemuan putrinya dengan raja hayam wuruk. Disisi lain, gajahmada juga berangkat dari kerajaan majapahit menuju kerajaan padjajaran. Namun, mereka bukan mengantarkan hayam wuruk bertemu diah pitaloka. Mereka berangkat dengan membawa armada ynag paling kuat, lain tidak lain adalah untuk menaklukkan dan menghancurkan kerajaan padjajaran.
Dan pada akhirnya, dua rombongan besar ini bertemu disebuah wilayah yang tersebut adalah wilayah bubat. Sri baduga maharaga kaget, ia segera bernegosiasi dengan gajah mada karena ia tidak bermaksud untuk menyerang majapahit. Namun, gajah mada tetap cuek dan tak percaya dengan omongan raja tersebut. Dengan semangat sumpah palapa, gajah mada dan para pasukan dengan mudah membantai rombongan padjajaran. Sri baduga maharaja juga terbunuh dalam peristiwa tersebut. Melihat ayahnya mati terbunuh, diah pitaloka memutuskan untuk bunuh diri dan mati. Karena perang ini terjadi di bubat maka pareng ini dikenal dengan sebutan perang bubat. perang-bubat.jpg
Kemudian, pasukan gajah mada balik ke kerajaan majapahit. Mendengar peristiwa yang telah terjadi, hayam wuruk sangat kecewa karena putri yang akan dinikahinya telah mati dalam peperangan tersebut. Hal ini membuat hubungan antara raja hayam wuruk dengan patih gajah mada semakin memburuk. Duet maut ini akhirnya memutuskan untuk berpisah dan membuat kerajaan majapahit kacau balau.
Perang babat menimbulkan banyak pengaru antar dua kerajaan kuat ini. Pengaruh itu bahkan terbawa sampai sekarang. Mungkin banyak kita temui  nama jalan “gajahmada”, “hayam wuruk”, “majapahit” di berbagai tempat. Namun, tidak untuk jawa barat. Ini karena pengaruh perang bubat.  Orang sunda juga melarang anak cucu nya untuk menikah dengan orang jawa. Wow, begitu besar pengaruh dari perang ini.

Minggu, 01 Februari 2015

masuknya hindu budha dan dampaknya






Assalamualaikum wr.wb

Pada posttingan saya ini saya akan membahas tentang beberapa teori tentang masuknya agama hindu budha ke Indonesia. Sebenarnya apa aja sih yang menyebabkan agama ini dapat masuk ke Indonesia dan dapat berkembang seperti sekarang? Insyaallah pada posttingan saya ini akan menjawabnya. Selain itu, saya juga akan membahas tentang pengaruh masuknya hindu budha ke Indonesia. Kelihatanya seru.,, mari kita simak,cekidot.
A. Teori masuknya hindu-budha ke Indonesia
1.Teori Waisya

Teori waisya mengungkapkan bahwa masuknya agama dan kebudayaan Hindu dibawa oleh golongan pedagang (waisya). Mereka mengikuti angin musim (setengah tahun berganti arah) dan enam bulan menetap di Indonesia dan menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu.

Menurut para pendukung teori waisya, kaum waisya yang umumnya merupakan kelompok pedagang inilah yang berperan besar dalam menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu ke Nusantara. Mereka yang menjadikan munculnya budaya Hindu sehingga dapat diterima di kalangan masyarakat.. Pada saat itu, para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa dan rakyat. Jalinan hubungan itu yang membuka peluang terjadinya proses penyebaran agama dan budaya Hindu. Salah satu tokoh pendukung hipotesis waisya adalah N.J. Krom.


Teori ksatria mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu masuk ke Nusantara adalah kaum ksatria. Menurut teori ini, pada masa lampau di India terjadi peperangan antarkerajaan. Para prajurit yang kalah perang, kemudian mengadakan migrasikedaerahlain.

Tampaknya, di antara mereka ada yang sampai ke Indonesia dan mendirikan koloni-koloni melalui penaklukan. Mereka menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Salah seorang pendukung teori ksatria adalah C.C. Berg.


Teori brahmana mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia ialah golongan brahmana. Para brahmana datang ke Nusantara diundang oleh penguasa Nusantara untuk menobatkan menjadi raja dengan upacara Hindu (abhiseka = penobatan). Selain itu, kaum brahmana juga memimpin upacara-upacara keagamaan dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendukung hipotesis ini adalah J.C. van Leur.

4.TeoriSudra

Teori ini mengatakan bahwa kaum Sudra datang ke Indonesia dan menyebarkan agama Hindu. Mereka datang dengan tujuan mengubah kehidupan mereka, karena di India mereka berkerja sebagai pekerja kasar dan budak.
5. Teori nasional

Teori ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch yang mengatakan bahwa dalam proses penyebaran agama Hindu ini, bangsa Indonesia berperan sangat aktif. Setelah dinobatkan sebagai seorang Hindu, mereka kemudian giat menyebarkan agama Hindu dan segala aktivitasnya. Pendapatnya ini didasarkan pada temuan adanya unsur-unsur budaya India dalam budaya Indonesia. Menurutnya, pada masa itu telah terbentuk golongan cendekiawan yang disebut "Clerk". Proses akulturasi antara budaya Indonesia dan India disebutnya sebagai proses penyuburan.

Hal-hal yang dilakukan para brahmana di Indonesia dalam rangka penghinduan, antara lain,

a. Abhiseka, yaitu upacara penobatan raja,
b. Vratyastoma, yaitu upacara pencucian diri (pemberian kasta),
c. Kulapanjika, yaitu memberikan silsilah raja, dan
d. Castra, yaitu cara membuat mantra
6. Teori Arus Balik
Teori ini mengatakan bahwa agama Hindu yang masuk ke Indonesia dibawa oleh para pelajar (orang Indonesia) yang belajar atau mendalami agama Hindu di India kemudian setelah mereka menempuh pendidikan, lalu mereka pulang dan mengajarkan (menyebarluaskan) ajaran Hindu kepada penduduk setempat.
7.TeoriCampuran

Teori ini mengatakan bahwa baik kaum brahmana, pedagang, raja-raja, atau golongan sudra sama-sama menyebarkan agama Hindu di Indonesia dengan peran mereka masing-masing.

B. pengaruh masuknya hindu budha terhadap masyarakat Indonesia
1.       Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat indonesia menganut kepercayaan animisme. Masyarakat mulai menerima kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Budha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata cara krama, upacara-upacara pemujaan dan bentuk tempat peribadatan.
2.      Pemerintahan                                                                     
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalakan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu lahir kerajaan-kerajaan seperti kutai, tarumanegara dan sriwijaya.


3.BidangIlmupengetahuan
Di kenalnya sistem pengetahuan yaitu seperti huruf pallawa dan bahasa Sansekerta menjadi pembuka jalan bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan. Para Brahmana berperan sebagai rohanaiwan sekaligus ilmuwan
4.Bidangsosial
Sebelum masuk pengaruh Hindhu dan Buddha, stratifikasi sosial didasarkan pada profesi. Namun setelah masuk pengaruh Hindhu dan Buddha, sistem stratifikasi mengikuti ola dari india yaitu pembagian masyarakat berdasarkan sistem kasta
5.Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, tidak begitu besarpengaruh dan perubahannya, karena masyarakatIndonesia telah mengenal aktifitas perekonomianmelalui pelayaran dan perdagangan jauh sebelummasuknya pengaruh Hindu-Budha.
6.Kebudayaan
Pengaruh kebudayaan Hindu-budha terlihat darihasil-hasil kebudayaan seperti bangunan candi, senisastra, berupa cerita-cerita epos diantaranya EposMahabharata dan Epos Ramayana. Pengaruhlainnya adalah sistem tulisan. Kebudayaan Hindu-Budha amat berperan memperkenalkan sistemtulisan di masyarakat Indonesia.
7.Bidang Kalender
Masuknya hindu dan budha berdampak pula pada penggunaan tahun saka dalam system perhitungan waktu di Indonesia. Tahun saka dimulai pertama kalu pada tahun 78M pada masa raja Kanisca I di india.
Ketika hindu berkembang di Indonesia, penggunaan tahun saka di masyarakat sudah banyak. Namun penggunaan tahun saka mulai berkurang lagi ketika masuk di Indonesia.
8.Bidang Perdagangan
Masuknya hindu dan budha di Indonesia makin memperluas wilayah perdagangan di Indonesia. Hal ini disebabkan masuknya Hindu ke Indonesia terkait dengan masuknya pedagang india ke Indonesia.
9. Bidang pendidikan
membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.
Dan mungkin hanya itulah yang dapat saya sebarkan. Semoga dapat bermanfaat untuk  kita semua. Dan semoga dapat menambah wawasan kita semua .Sekian
Wassalamualaikum wr. Wb.
Sumber:         http://www.materisma.com
                        infintyknowledge.blogspot.com
                        dikaindo1.blogspot.com
                        https://arifyudisejarah2006.wordpress.com
                        rahmandiligent.blogspot.com
                        www.gerbangilmu.com
                        https://kartikatriutami.wordpress.com
                        www.academia.edu





Minggu, 11 Januari 2015

zaman pra-sejarah



Assalamu`alaikum wr.wb
Oke , saya Zidnal Mafaz,Pada postingan saya yang ketiga ini, saya akan membahas tentang zaman pra-sejarah. Zaman pra-sejarah juga disebut juga zaman pra-aksara. Yaitu dimana manusia yang hidup di zaman ini belum mengenal tulisan. Nah, pada zaman ini terbagi menjadi dua zaman lagi. Yaitu zaman batu dan zaman logam. Apa itu? Mari kita bahas bersama-sama. Cekidot.
A.Zaman batu
Zaman batu? Apa itu zaman batu? Zaman batu adalah masa zaman prasejarah yang luas, ketika manusia menciptakan alat dari batu. Kayu, tulang, dan bahan lain juga digunakan, tetapi batu (terutama flint) dibentuk untuk dimanfaatkan sebagai alat memotong dan senjata. Zaman batu dibagi menjadi 4 masa. Yaitu paleolitikum,mesolitikum,megalitikum,dan neolitikum. Masa apakah itu? Dan apakah peninggalan-peninggalan di masa itu? Kemudian bagaimanakah kehidupan manusia di masa itu? Mari kita bahas sekarang juga.
1.      Paleolitikum
Paleo, dari nama ini kita sudah bisa melihat apakah paleolitikum. Ya, paleo berarti tua, dan litos berarti batu, sedangkan kum berarti zaman. Jadi, paleolitikum adalah zaman batu tua. Zaman ini merupakan zaman batu yang pertama. Zaman ini berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu.. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka mencari biji-bijian, umbi, serta dedaunan sebagai makanan. Mereka tidak bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan sehari-hari. Alat-alat ini juga digunakan untuk mempertahankan diri dari musuh. Peninggalan-peninggalan di zaman ini banyak di temukan di sekitar pacitan. Orang yang meneliti di daerah pacitan merupakan orang belanda yang bernama Von Koenigswald pada tahun 1956. Berikut benda-benda yang di temukan di zaman paloelitikum:
a.      Kapak genggam
            Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut "chopper" (alat penetak/pemotong)
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.
b.      Kapak perimbas
Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang dan sebagai senjata. Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus. Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), lahat, (Sumatra selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing).
c.       Flakes
Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
Setelah mengetahui benda-benda peninggalan, meri kita belajar tentang kehidupan manusia di zaman paleolitikum.
Jadi, berdasarkan penelitian tentang penemuan fosil-fosil manusia purba, pada zaman paleolitikum terdapat beberapa jenis manusia. Yaitu: Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo Soliensis. Fosil ini ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo. Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Pada kebudayaan pacitan ditemukan alat-alat kapak yang terbuata dari batu. Sedangkan dalam kebudayaan ngandong, alat-alat tersebut terbuat dari tulang-tulang.
Zaman Paleolithikum ditandai dengan kebudayan manusia yang masih sangat sederhana. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman Paleolithikum, yakni:
1.Hidup berpindah-pindah (Nomaden)
2. Berburu (Food Gathering)
3. Menangkap ikan
2. Mesolitikum
            Mesolitikum atau Zaman Batu Madya (Bahasa Yunani: mesos "tengah", lithos batu) adalah suatu periode dalam perkembangan teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau Zaman Batu Muda.
Zaman batu tengah diperkirakan berlangsung 20.000 tahun yang lalu, yaitu selama kala holosen. Dalam zaman ini, alat-alat yang dihasilkan sudah lebih baik karena alat dari batu sudah mulai diupam dan dihaluskan pada bagian tertentu yang diperlukan. Hasil budayanya, antara lain sebagai berikut.
a.Abris sous roche
Abris sous roche adalah gua atau ceruk di dalam batu karang untuk berlindung, digunakan sebagai tempat  tinggal manusia zaman prasejarah.  Pendukung kebudayaan ini adalah manusia papua  melanesoid.
b.Sampah dapur (Kjokenmoddinger)
Sampah dapur ini berwujud kulit siput dan kerang yang menumpuk membentuk bukit selama ribuan tahun sehingga sudah menjadi posil. Pendukung  kebudayaan ini adalah  manusia papua melanesoid
b.Kapak Sumatra (Pepble)                                
Kapak sumetra terbuat dari batu kali yang di pecah berjenis kapak genggam yang sudah di gosok, walaupun belum halus. Banyak ditemukan di daerah pantai Sumatra timur laut, Antara langsa (Aceh) dan Medan (Sumatra Utara).

c.Batu pipisan

Batu pipisan berpungsi untuk menggiling makanan dan menghaluskan cat merah (Diperkirakan berkaitan dengan upacara kepercayaan). Batu pipisan terdiri atas batu penggiling dan landasan.
3. Megalitikum
Pada zaman ini terdapat bangunan-bangunan besar hasil kebudayaan orang-orang pada zaman ini. Seperti pada namanya yang berarti zaman batu tua( mega= besar, lithos= batu). Apa sajakah peninggalan-peninggalan tersebut? Mari kita simak liputan ini.
a.Menhir
Menhir adalah salah satu peninggalan sejarah yang terbuat dari batu. Mentuknya lonjong ke atas. Biasanya menhir digunakan untuk memuja para arwah yang diyakini oleh manusia zaman itu.
            b.dolmen/ meja batu
dolmen adalah eja batu yang digunakan orang prasejarah untuk meletakkan sesaji yang akan dipersembahkan untuk roh nenek moyang mereka. Biasanya di bawah dolmen sering ditemukan kubur batu.
c.      Punden berundak
Punden berundak atau teras berundak adalah struktur tata ruang bangunan yang berupa teras atau trap berganda yang mengarah pada satu titik dengan tiap teras semakin tinggi posisinya. Kata "punden" (atau pundian) berasal dari bahasa Jawa. Kata pepunden yang berarti "objek-objek pemujaan" mirip pengertiannya dengan konsep kabuyutan pada masyarakat Sunda. Dalam punden berundak, konsep dasar yang dipegang adalah para leluhur atau pihak yang dipuja berada pada tempat-tempat tinggi (biasanya puncak gunung). Istilah punden berundak menegaskan fungsi pemujaan/penghormatan atas leluhur, tidak semata struktur dasar tata ruangnya.
d.sarkofagus
Sarkofagus adalah suatu tempat untuk menyimpan jenazah. Sarkofagus umumnya dibuat dari batu. Kata "sarkofaus" berasal dari bahasa Yunani σάρξ (sarx, "daging") dan φαγεῖνειν (phagein,"memakan"), dengan demikian sarkofagus bermakna "memakan daging".
Sarkofagus sering disimpan di atas tanah oleh karena itu sarkofagus seringkali diukir, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Di Mesir kuno, sarkofagus merupakan lapisan perlindungan bagi mumi keluarga kerajaan dan kadang-kadang dipahat dengan alabaster.
 Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu :
1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.
2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
4. Neolitikum
Pada zaman neolitikum yang juga dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi “revolusi kebudayaan”, yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering digantikan dengan pola food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan jenis pendukung kebudayaanya. 

Pada zaman ini telah hidup jenis Homo sapiens sebagai pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses untuk menghasilkan atau memproduksi bahan makanan. Hidup bermasyarakat dengan bergotong royong mulai dikembangkan. 
Kebudayaan  pada zaman ini secara garis besar dibagi menjadi 2 kebudayaan yaitu:

a.Kebudayaankapakpersegi
Nama kapak persegi berasal dari penyebutan oleh von Heine Gelderen. Penamaan ini dikaitkan dengan bentuk alat tersebut. Kapak persegi ini berbentuk persegi panjang dan ada juga yang berbentuk trapesium. Diperkirakan sentra-sentra teknologi kapak persegi ini ada di Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya (Jawa Barat), kemudian Pacitan-Madiun, dan di Lereng Gunung Ijen (Jawa Timur). Yang menarik, di Desa Pasirkuda dekat Bogor juga ditemukan batu asahan.
b.Kebudayaankapaklonjong
Nama kapak lonjong ini disesuaikan dengan bentuk penampang alat ini yang berbentuk lonjong. Bentuk keseluruhan alat ini lonjong seperti bulat telur. Pada ujung yang lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak yang ukuran besar sering disebut walzenbeil dan yang kecil dinamakan kleinbeil. Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa.

pembahasan tentang zaman batu seru kan?? begitulah ringkas cerita dari zaman batu. sekarang kita lanjutkan dengan mempelajari tentang zaman logam. penasaran kan? okelah, mari kita kupas.


Zaman logam
Zaman logam adalah zaman dimana manusia sudah mengenal teknologi pertukangan secara sederhana. Pada masa ini manusia mulai mengenal logam perunggu dan besi. Pengolahan logam memerlukan suatu tempat dan keahlian khusus. Tempat untuk mengolah logam dikenal dengan nama perundagian dan orang yang ahli mengerjakan pertukangan logam disebut undagi. Maka zaman logam disebut juga zaman perundagian.
Di Indonesia logam yang digunakan adalah perunggu dan besi. Maka muncul daerah-daerah produsen barang, yang kemudian ditukarkan dengan barang kebutuhan lain, sehingga terjadilah barter. Kebutuhan barang makin meningkat memunculkan daerah konsumen, sehingga terjadilah perdagangan antar daerah. Kebudayaan zaman logam terus berkembang hingga munculnya kerajaan-kerajaan di Indonesia. Zaman logam dibagi menjadi 3 masa. Yaitu zaman peruggu, zaman besi, zaman tembaga. Mari kita kupas satu per satu.
1.      Zaman perunggu
Sekitar 8.000 tahun lalu manusia menemukan cara mengolah logam. Mula-mula orang membuat barang dari tembaga dan emas yang ditempa dengan batu keras. Tapi lambat laun perajin belajar mengolah logam dengan cara memanaskannya sampai cair. Lalu logam cair itu dituang ke cetakan. Keunggulan logam adalah bisa dibuat menjadi bentuk yang rumit, seperti perkakas dan senjata. Jika patah, logam bisa dicairkan dan dibentuk lagi. Perunggu diperkirakan ditemukan orang pertama kali secara tak sengaja ketika mencampurkan sedikit timah dengan tembaga. Perunggu lalu diketahui lebih keras dan lebih tahan lama dibandingkan dengan logam lain serta bisa dibuat tajam. Zaman perunggu dimulai ketika rakyat di desa dan di tempat kerja mulai memakai perunggu. Salah satu daerah pertama yang membuat perunggu adalah Sumeria di Mesopotamia, tempat kota pertama dibangun.
Berikut peninggalan dari zaman perunggu:
1. Nekara
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup. Nekara mirip dengan dandang (gendang) yang ditelungkupkan. Nekara digunakan sebagai alat dalam kegiatan upacara yang berfungsi sebagai genderang. Nekara banyak ditemukan di Indonesia khususnya Bali, Bima, Sumbawa, Pulau Alor, Pulau Jawa, Flores, Maluku, dll.
2. Kapak Corong
Kapak corong adalah benda dari perunggu yang mempunyai pangkal seperti ekor burung sriti dan bagian tengahnya berongga. Bagian tengah tersebut digunakan untuk menempatkan gagang. Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, Flores, Banda, dll.
3. Arca Perunggu
Arca perunggu yang berkembang memiliki bentuk yang beraneka ragam, seperti bentuk manusia dan binatang. Pada umumnya arca perunggu berukuran kecil dan dilengkapi cincin di bagian atasnya yang berfungsi untuk menggantungkan arca. Arca ini biasa digunakan sebagai liontin kalung. Arca perunggu banyak ditemukan di Riau, Palembang, Malang, dan Bogor.
4. Bejana Perunggu
Bejana perunggu hanya ditemukan dua buah di Indonesia yaitu di Sumatra dan Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung. Bejana yang ditemukan di Kerinci (Sumatra) berukuran panjang 50,8 cm dengan lebar 37 cm. Sementara yang ditemukan di Asemjarang, Sampang (Madura) mempunya ukuran tinggi 90 cm dan lebar 54 cm.
5. Perhiasan Perunggu
Perhiasan perunggu adalah perhiasan yang sangat populer pada zaman perunggu, baik dari golongan atas maupun bawah. Perhiasan tersebut berupa anting, giwang, kalung, gelang kaki, dll.
Di zaman ini manusia sudah cerdas dengan dibuktikan pembuatan-pembuatan benda yang sudah modern. Seperti orang-orang sumeria. Meski kering, dataran Sumeria subur. Petani menggali parit dari kanal guna mengontrol air dari sungai dan mengairi tanah. Petani bisa mendapat panen besar dan terkadang sampai dua kali setahun. Orang Sumeria juga  membuat batu bata dari campuran lumpur dan jerami. Setelah dicetak, batu bata dijemur di panas matahari. Orang Sumeria membuat perahu dan kandang dari gelagah. Gelagah didapat dari tepi sungai. Orang Sumeria tunduk pada dewa dan penguasa, yakni wakil dewa di Bumi. Mereka taat membayar pajak kepada penguasa. Begitulah beberapa contoh kecerasan yang dimiliki manusia zaman perunggu.
2.      zaman tembaga
Zaman tembaga merupakan zaman di mana manusia sudah dapat mengelolah logam tembaga yang di sesuaikan dengan bentuk-bentuk peralatan yang di butuhkannya, zaman tembaga ini tidak pernah berpengaruh pada kehidupan masyarakat Indonesia, zaman tembaga berkembang di semenanjung Malaya, kamboja, Thailand, Vietnam.
Sebuah situs arkeologi di Eropa tenggara (Serbia) memiliki bukti tertua pembuatan tembaga pada temperatur tinggi, berasal dari 7000 tahun yang lalu. Penemuan ini mengindikasikan suatu kemungkinan bahwa peleburan tembaga mungkin telah ditemukan di berbagai daerah berbeda di Asia dan Eropa pada waktu yang sama dibandingkan berkembang dari satu daerah.

3.Zaman besi
Zaman besi, zaman di mana manusia sudah dapat mengelola bijih-bijih besi untuk keperluan hidup yang mereka butuhkan. Disebut zaman besi karena pada zaman ini tingkat kehidupan manusia sudah jauh lebih baik dari masa sebelumnya, benda-benda perunggu yang ditemukan pada zaman logam dibuat dengan mengguankan teknik bivalve (setangkup) dan teknik a cire perdue (cetak lilin).
a)    Teknik a cire perdue (cetak lilin)
Pembuatan benda dengan teknik a cire perdue ini yaitu benda yang akan di cetak terlrbih dahulu di buatkan cetakannya dari lilin. Bentuk lilin dapat diberi pola hias menurut keperluannya, setelah itu dibungkus dengan tanah liat dan bagian atas dan bawah di beri lubang. Untuk selanjutnya dibakar agar lilin mencair. Dari lubang atas di tuangkan perunggu cair dan dari lubang bawah mengalirkan lilin yang meleleh. Bila perunggu yang di tuangkan sudah dingin, cetakan tersebut dipecah untuk mengambil benda yang sudah jadi. Keuntungan dari tekinik a cire perdue ini benda yang dihasilkan halus sedangkan kerugiannya cetakan seperti ini hanya dapat digunakan satu kali saja.


b)    Teknik bivalve (setangkup)
Teknik bivalve ini menggunakan dua cetakan yang data di tangkupkan (di rapatkan terdapat garis bekas cetakan yang di tangkupkan.), cetakan tersebut diberi lubang dari bagian atasnya, dari lubang itu di tuangkan logam cair bila perunggu sudah cair cetakan dibuka. Bila membuat benda berongga, maka di gunakan tanah liat sebagai intinya yang akan membentuk rongga setelah tanah liat dibuang. Keuntungan dari teknik bivalve ini cetakan dapat digunakan berulang-ulang sedangkan kerugiannya benda yang di hasilkan.

Nah, akhirnya selesailah pembahasan kita tentang zaman pra sejarah yang berupa zaman batu dan zaman logam. Sekian dari kami. Semoga bermanfaat.
Wassalamu`alaikum wr.wb.

Sumber:
id.wikipedia.org
pendidikan4sejarah.blogspot.com
sejarahbudayanusantara.weebly.com
epri-wismark.blogspot.com
buihkata.blogspot.com
sejarah-smu.blogspot.com
bzzandi.blogspot.com
matakristal.com
hedisasrawan.blogspot.com