Assalamu`alaikum
wr.wb
Oke , saya Zidnal Mafaz,Pada postingan
saya yang ketiga ini, saya akan membahas tentang zaman pra-sejarah. Zaman
pra-sejarah juga disebut juga zaman pra-aksara. Yaitu dimana manusia yang hidup
di zaman ini belum mengenal tulisan. Nah, pada zaman ini terbagi menjadi dua
zaman lagi. Yaitu zaman batu dan zaman logam. Apa itu? Mari kita bahas
bersama-sama. Cekidot.
A.Zaman batu
Zaman
batu? Apa itu zaman batu? Zaman batu adalah masa zaman prasejarah yang luas,
ketika manusia menciptakan alat dari batu. Kayu, tulang, dan bahan lain juga
digunakan, tetapi batu (terutama flint) dibentuk untuk dimanfaatkan
sebagai alat memotong dan senjata. Zaman batu dibagi menjadi 4 masa. Yaitu
paleolitikum,mesolitikum,megalitikum,dan neolitikum. Masa apakah itu? Dan
apakah peninggalan-peninggalan di masa itu? Kemudian bagaimanakah kehidupan
manusia di masa itu? Mari kita bahas sekarang juga.
1.
Paleolitikum
Paleo, dari nama ini kita sudah bisa melihat
apakah paleolitikum. Ya, paleo berarti tua, dan litos berarti batu, sedangkan
kum berarti zaman. Jadi, paleolitikum adalah zaman batu tua. Zaman ini
merupakan zaman batu yang pertama. Zaman ini berlangsung sekitar 600.000 tahun
yang lalu.. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah
dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka mencari biji-bijian, umbi,
serta dedaunan sebagai makanan. Mereka tidak bercocok tanam. Mereka menggunakan
batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan sehari-hari. Alat-alat
ini juga digunakan untuk mempertahankan diri dari musuh.
Peninggalan-peninggalan di zaman ini banyak di temukan di sekitar pacitan.
Orang yang meneliti di daerah pacitan merupakan orang belanda yang bernama Von
Koenigswald pada tahun 1956. Berikut benda-benda yang di temukan di zaman
paloelitikum:
a.
Kapak genggam
Kapak genggam banyak ditemukan di
daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut "chopper" (alat
penetak/pemotong)
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.
b.
Kapak perimbas
Kapak perimbas berfungsi untuk merimbas kayu,
memahat tulang dan sebagai senjata. Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis
Pithecanthropus. Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi
(Jawa Barat), lahat, (Sumatra selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing).
c.
Flakes
Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari
batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk
hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang. Kegunaan
alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan
buah-buahan.
Setelah mengetahui benda-benda peninggalan, meri
kita belajar tentang kehidupan manusia di zaman paleolitikum.
Jadi, berdasarkan penelitian tentang penemuan
fosil-fosil manusia purba, pada zaman paleolitikum terdapat beberapa jenis
manusia. Yaitu: Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus
paleojavanicus, dan Homo Soliensis. Fosil ini ditemukan di aliran sungai
Bengawan Solo. Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan
Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan Pacitan dan
kebudayaan Ngandong. Pada kebudayaan pacitan ditemukan alat-alat kapak yang
terbuata dari batu. Sedangkan dalam kebudayaan ngandong, alat-alat tersebut
terbuat dari tulang-tulang.
Zaman Paleolithikum ditandai dengan kebudayan manusia
yang masih sangat sederhana. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman
Paleolithikum, yakni:
1.Hidup berpindah-pindah (Nomaden)
2. Berburu (Food Gathering)
3. Menangkap ikan
2. Berburu (Food Gathering)
3. Menangkap ikan
2. Mesolitikum
Mesolitikum atau Zaman Batu Madya (Bahasa Yunani: mesos
"tengah", lithos batu) adalah suatu periode dalam perkembangan
teknologi manusia, antara Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Neolitik atau
Zaman Batu Muda.
Zaman
batu tengah diperkirakan berlangsung 20.000 tahun yang lalu, yaitu selama kala
holosen. Dalam zaman ini, alat-alat yang dihasilkan sudah lebih baik karena
alat dari batu sudah mulai diupam dan dihaluskan pada bagian tertentu yang
diperlukan. Hasil budayanya, antara lain sebagai berikut.
a.Abris sous roche
Abris
sous roche adalah gua atau ceruk di dalam batu karang untuk berlindung,
digunakan sebagai tempat tinggal manusia zaman prasejarah.
Pendukung kebudayaan ini adalah manusia papua melanesoid.
b.Sampah dapur
(Kjokenmoddinger)Sampah dapur ini berwujud kulit siput dan kerang yang menumpuk membentuk bukit selama ribuan tahun sehingga sudah menjadi posil. Pendukung kebudayaan ini adalah manusia papua melanesoid
b.Kapak
Sumatra (Pepble)
Kapak sumetra terbuat dari
batu kali yang di pecah berjenis kapak genggam yang sudah di gosok, walaupun
belum halus. Banyak ditemukan di daerah pantai Sumatra timur laut, Antara
langsa (Aceh) dan Medan (Sumatra Utara).c.Batu pipisan
Batu pipisan berpungsi untuk menggiling makanan dan menghaluskan cat merah (Diperkirakan berkaitan dengan upacara kepercayaan). Batu pipisan terdiri atas batu penggiling dan landasan.
3. Megalitikum
Pada zaman ini terdapat bangunan-bangunan besar hasil kebudayaan orang-orang pada zaman ini. Seperti pada namanya yang berarti zaman batu tua( mega= besar, lithos= batu). Apa sajakah peninggalan-peninggalan tersebut? Mari kita simak liputan ini.
a.Menhir
Menhir
adalah salah satu peninggalan sejarah yang terbuat dari batu. Mentuknya lonjong
ke atas. Biasanya menhir digunakan untuk memuja para arwah yang diyakini oleh
manusia zaman itu.
b.dolmen/ meja batu
dolmen
adalah eja batu yang digunakan orang prasejarah untuk meletakkan sesaji yang
akan dipersembahkan untuk roh nenek moyang mereka. Biasanya di bawah dolmen
sering ditemukan kubur batu.
c. Punden berundak
Punden
berundak atau teras berundak adalah struktur tata ruang bangunan yang berupa
teras atau trap berganda yang mengarah pada satu titik dengan tiap teras
semakin tinggi posisinya. Kata "punden" (atau pundian) berasal
dari bahasa Jawa. Kata pepunden yang berarti "objek-objek
pemujaan" mirip pengertiannya dengan konsep kabuyutan pada
masyarakat Sunda. Dalam punden berundak, konsep dasar yang dipegang adalah para
leluhur atau pihak yang dipuja berada pada tempat-tempat tinggi (biasanya puncak
gunung). Istilah punden berundak menegaskan fungsi pemujaan/penghormatan
atas leluhur, tidak semata struktur dasar tata ruangnya.
d.sarkofagus
Sarkofagus
adalah suatu tempat untuk menyimpan jenazah. Sarkofagus umumnya dibuat dari
batu. Kata "sarkofaus" berasal dari bahasa Yunani σάρξ (sarx,
"daging") dan φαγεῖνειν (phagein,"memakan"),
dengan demikian sarkofagus bermakna "memakan daging".
Sarkofagus
sering disimpan di atas tanah oleh karena itu sarkofagus seringkali diukir,
dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat berdiri sendiri,
sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara beberapa yang
lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Di Mesir kuno, sarkofagus
merupakan lapisan perlindungan bagi mumi keluarga kerajaan dan kadang-kadang
dipahat dengan alabaster.
Menurut Von Heine
Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang
yaitu :
1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.
2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
4.
Neolitikum 1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.
2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
Pada zaman neolitikum yang juga dapat dikatakan
sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi “revolusi kebudayaan”,
yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering
digantikan dengan pola food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya
perubahan jenis pendukung kebudayaanya.
Pada zaman ini telah hidup jenis Homo sapiens sebagai
pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan
beternak sebagai proses untuk menghasilkan atau memproduksi bahan makanan.
Hidup bermasyarakat dengan bergotong royong mulai dikembangkan.
Kebudayaan pada
zaman ini secara garis besar dibagi menjadi 2 kebudayaan yaitu:
a.Kebudayaankapakpersegi
Nama kapak persegi berasal dari penyebutan oleh von Heine Gelderen. Penamaan ini dikaitkan dengan bentuk alat tersebut. Kapak persegi ini berbentuk persegi panjang dan ada juga yang berbentuk trapesium. Diperkirakan sentra-sentra teknologi kapak persegi ini ada di Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya (Jawa Barat), kemudian Pacitan-Madiun, dan di Lereng Gunung Ijen (Jawa Timur). Yang menarik, di Desa Pasirkuda dekat Bogor juga ditemukan batu asahan.
Nama kapak persegi berasal dari penyebutan oleh von Heine Gelderen. Penamaan ini dikaitkan dengan bentuk alat tersebut. Kapak persegi ini berbentuk persegi panjang dan ada juga yang berbentuk trapesium. Diperkirakan sentra-sentra teknologi kapak persegi ini ada di Lahat (Palembang), Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya (Jawa Barat), kemudian Pacitan-Madiun, dan di Lereng Gunung Ijen (Jawa Timur). Yang menarik, di Desa Pasirkuda dekat Bogor juga ditemukan batu asahan.
b.Kebudayaankapaklonjong
Nama kapak lonjong ini disesuaikan dengan bentuk penampang alat ini yang berbentuk lonjong. Bentuk keseluruhan alat ini lonjong seperti bulat telur. Pada ujung yang lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak yang ukuran besar sering disebut walzenbeil dan yang kecil dinamakan kleinbeil. Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa.
Nama kapak lonjong ini disesuaikan dengan bentuk penampang alat ini yang berbentuk lonjong. Bentuk keseluruhan alat ini lonjong seperti bulat telur. Pada ujung yang lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah sehingga tajam. Kapak yang ukuran besar sering disebut walzenbeil dan yang kecil dinamakan kleinbeil. Penyebaran jenis kapak lonjong ini terutama di Kepulauan Indonesia bagian timur, misalnya di daerah Papua, Seram, dan Minahasa.
pembahasan tentang zaman batu seru kan?? begitulah ringkas cerita dari zaman batu. sekarang kita lanjutkan dengan mempelajari tentang zaman logam. penasaran kan? okelah, mari kita kupas.
Zaman logam
Zaman logam adalah zaman
dimana manusia sudah mengenal teknologi pertukangan secara sederhana. Pada masa
ini manusia mulai mengenal logam perunggu dan besi. Pengolahan logam memerlukan
suatu tempat dan keahlian khusus. Tempat untuk mengolah logam dikenal dengan
nama perundagian dan orang yang ahli mengerjakan pertukangan logam disebut
undagi. Maka zaman logam disebut juga zaman perundagian.Di Indonesia logam yang digunakan adalah perunggu dan besi. Maka muncul daerah-daerah produsen barang, yang kemudian ditukarkan dengan barang kebutuhan lain, sehingga terjadilah barter. Kebutuhan barang makin meningkat memunculkan daerah konsumen, sehingga terjadilah perdagangan antar daerah. Kebudayaan zaman logam terus berkembang hingga munculnya kerajaan-kerajaan di Indonesia. Zaman logam dibagi menjadi 3 masa. Yaitu zaman peruggu, zaman besi, zaman tembaga. Mari kita kupas satu per satu.
1. Zaman
perunggu
Sekitar
8.000 tahun lalu manusia menemukan cara mengolah logam. Mula-mula orang membuat
barang dari tembaga dan emas yang ditempa dengan batu keras. Tapi lambat laun
perajin belajar mengolah logam dengan cara memanaskannya sampai cair. Lalu
logam cair itu dituang ke cetakan. Keunggulan logam adalah bisa dibuat menjadi
bentuk yang rumit, seperti perkakas dan senjata. Jika patah, logam bisa
dicairkan dan dibentuk lagi. Perunggu diperkirakan ditemukan orang pertama kali
secara tak sengaja ketika mencampurkan sedikit timah dengan tembaga. Perunggu
lalu diketahui lebih keras dan lebih tahan lama dibandingkan dengan logam lain
serta bisa dibuat tajam. Zaman perunggu dimulai ketika rakyat di desa dan di
tempat kerja mulai memakai perunggu. Salah satu daerah pertama yang membuat
perunggu adalah Sumeria di Mesopotamia, tempat kota pertama dibangun.
Berikut
peninggalan dari zaman perunggu:
1. Nekara
Nekara adalah
semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi
atasnya tertutup. Nekara mirip dengan dandang (gendang) yang ditelungkupkan.
Nekara digunakan sebagai alat dalam kegiatan upacara yang berfungsi sebagai
genderang. Nekara banyak ditemukan di Indonesia khususnya Bali, Bima, Sumbawa,
Pulau Alor, Pulau Jawa, Flores, Maluku, dll.
2. Kapak Corong
Kapak corong
adalah benda dari perunggu yang mempunyai pangkal seperti ekor burung sriti dan
bagian tengahnya berongga. Bagian tengah tersebut digunakan untuk menempatkan
gagang. Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, Flores,
Banda, dll.
3. Arca Perunggu
Arca perunggu
yang berkembang memiliki bentuk yang beraneka ragam, seperti bentuk manusia dan
binatang. Pada umumnya arca perunggu berukuran kecil dan dilengkapi cincin di
bagian atasnya yang berfungsi untuk menggantungkan arca. Arca ini biasa
digunakan sebagai liontin kalung. Arca perunggu banyak ditemukan di Riau,
Palembang, Malang, dan Bogor.
4. Bejana Perunggu
Bejana perunggu
hanya ditemukan dua buah di Indonesia yaitu di Sumatra dan Madura. Bejana
perunggu berbentuk bulat panjang. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu
yang cembung. Bejana yang ditemukan di Kerinci (Sumatra) berukuran panjang 50,8
cm dengan lebar 37 cm. Sementara yang ditemukan di Asemjarang, Sampang (Madura)
mempunya ukuran tinggi 90 cm dan lebar 54 cm.
5. Perhiasan Perunggu
Perhiasan
perunggu adalah perhiasan yang sangat populer pada zaman perunggu, baik dari
golongan atas maupun bawah. Perhiasan tersebut berupa anting, giwang, kalung,
gelang kaki, dll.
Di zaman ini
manusia sudah cerdas dengan dibuktikan pembuatan-pembuatan benda yang sudah
modern. Seperti orang-orang sumeria. Meski kering,
dataran Sumeria subur. Petani menggali parit dari kanal guna mengontrol air
dari sungai dan mengairi tanah. Petani bisa mendapat panen besar dan terkadang
sampai dua kali setahun. Orang Sumeria juga
membuat batu bata dari campuran lumpur dan jerami. Setelah dicetak, batu
bata dijemur di panas matahari. Orang Sumeria membuat perahu dan kandang dari gelagah.
Gelagah didapat dari tepi sungai. Orang Sumeria tunduk pada dewa dan penguasa,
yakni wakil dewa di Bumi. Mereka taat membayar pajak kepada penguasa. Begitulah
beberapa contoh kecerasan yang dimiliki manusia zaman perunggu.
2.
zaman tembaga
Zaman tembaga merupakan zaman di mana manusia sudah dapat mengelolah
logam tembaga yang di sesuaikan dengan bentuk-bentuk peralatan yang di
butuhkannya, zaman tembaga ini tidak pernah berpengaruh pada kehidupan
masyarakat Indonesia, zaman tembaga berkembang di semenanjung Malaya, kamboja,
Thailand, Vietnam.
Sebuah situs arkeologi di Eropa tenggara (Serbia) memiliki bukti
tertua pembuatan tembaga pada temperatur tinggi, berasal dari 7000 tahun yang
lalu. Penemuan ini mengindikasikan suatu kemungkinan bahwa peleburan tembaga
mungkin telah ditemukan di berbagai daerah berbeda di Asia dan Eropa pada waktu
yang sama dibandingkan berkembang dari satu daerah.
3.Zaman besi
Zaman besi, zaman di mana manusia sudah dapat
mengelola bijih-bijih besi untuk keperluan hidup yang mereka butuhkan. Disebut
zaman besi karena pada zaman ini tingkat kehidupan manusia sudah jauh lebih
baik dari masa sebelumnya, benda-benda perunggu yang ditemukan pada zaman logam
dibuat dengan mengguankan teknik bivalve (setangkup) dan teknik a
cire perdue (cetak lilin).
a) Teknik a cire perdue (cetak
lilin)
Pembuatan benda dengan teknik a cire perdue ini
yaitu benda yang akan di cetak terlrbih dahulu di buatkan cetakannya dari
lilin. Bentuk lilin dapat diberi pola hias menurut keperluannya, setelah itu
dibungkus dengan tanah liat dan bagian atas dan bawah di beri lubang. Untuk
selanjutnya dibakar agar lilin mencair. Dari lubang atas di tuangkan perunggu cair
dan dari lubang bawah mengalirkan lilin yang meleleh. Bila perunggu yang di
tuangkan sudah dingin, cetakan tersebut dipecah untuk mengambil benda yang
sudah jadi. Keuntungan dari tekinik a cire perdue ini benda yang
dihasilkan halus sedangkan kerugiannya cetakan seperti ini hanya dapat
digunakan satu kali saja.
b) Teknik bivalve (setangkup)
Teknik bivalve ini menggunakan dua cetakan yang
data di tangkupkan (di rapatkan terdapat garis bekas cetakan yang di
tangkupkan.), cetakan tersebut diberi lubang dari bagian atasnya, dari lubang
itu di tuangkan logam cair bila perunggu sudah cair cetakan dibuka. Bila
membuat benda berongga, maka di gunakan tanah liat sebagai intinya yang akan
membentuk rongga setelah tanah liat dibuang. Keuntungan dari teknik bivalve
ini cetakan dapat digunakan berulang-ulang sedangkan kerugiannya benda yang di
hasilkan.
Nah, akhirnya selesailah pembahasan kita tentang zaman
pra sejarah yang berupa zaman batu dan zaman logam. Sekian dari kami. Semoga
bermanfaat.
Wassalamu`alaikum
wr.wb.
Sumber:
id.wikipedia.org
pendidikan4sejarah.blogspot.com
sejarahbudayanusantara.weebly.com
epri-wismark.blogspot.com
buihkata.blogspot.com
sejarah-smu.blogspot.com
bzzandi.blogspot.com
matakristal.com
hedisasrawan.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar